Sabtu, 26 November 2011

Something Called "Déjà vu"

Diposting oleh Wii~ di 22.09
Aloha minna ~ http://www.emocutez.com sekarang Wii mo ngebahas tentang "Déjà vu". Kalian pasti pernah ngalamin ini kan? "perasaan gue udah pernah kesini deh.." macem gitu lah ~ http://www.emocutez.com langsung aja yuk ke definisinya ~

Déjà vu(/ˈdeɪʒɑː ˈvuː/ (bantuan·info)) adalah sebuah frasa Perancis dan artinya secara harafiah adalah "pernah lihat / pernah merasa". Maksudnya mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya. Fenomena ini juga disebut dengan istilah paramnesia dari bahasa Yunani para (παρα) yang artinya ialah "sejajar" dan mnimi (μνήμη) "ingatan". Menurut para pakar, setidaknya 70% penduduk bumi pernah mengalami fenomena ini.

Rahasia dibalik Déjà vu

Hampir semua dari kita pernah mengalami apa yang dinamakan deja vu: sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa peristiwa baru yang sedang kita rasakan sebenarnya pernah kita alami jauh sebelumnya. Peristiwa ini bisa berupa sebuah tempat baru yang sedang dikunjungi, percakapan yang sedang dilakukan, atau sebuah acara TV yang sedang ditonton.Lebih anehnya lagi, kita juga seringkali tidak mampu untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci. Yang kita tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat kita tidak merasa asing dengan peristiwa baru itu.

Keanehan fenomena deja vu ini kemudian melahirkan beberapa teori metafisis yang mencoba menjelaskan sebab musababnya. Salah satunya adalah teori yang mengatakan bahwa deja vu sebenarnya berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya di masa lampau. Bagaimana penjelasan ilmu psikologi sendiri?

Terkait dengan Umur dan Penyakit Degeneratif

Pada awalnya, beberapa ilmuwan beranggapan bahwa deja vu terjadi ketika sensasi optik yang diterima oleh sebelah mata sampai ke otak (dan dipersepsikan) lebih dulu daripada sensasi yang sama yang diterima oleh sebelah mata yang lain, sehingga menimbulkan perasaan familiar pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori yang dikenal dengan nama “optical pathway delay” ini dipatahkan ketika pada bulan Desember tahun lalu ditemukan bahwa orang butapun bisa mengalami deja vu melalui indra penciuman, pendengaran, dan perabaannya.

Selain itu, sebelumnya Chris Moulin dari University of Leeds, Inggris, telah menemukan pula penderita deja vu kronis: orang-orang yang sering dapat menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa yang tidak pernah terjadi. Mereka merasa tidak perlu menonton TV karena merasa telah menonton acara TV tersebut sebelumnya (padahal belum), dan mereka bahkan merasa tidak perlu pergi ke dokter untuk mengobati ‘penyakit’nya karena mereka merasa sudah pergi ke dokter dan dapat menceritakan hal-hal rinci selama kunjungannya! Alih-alih kesalahan persepsi atau delusi, para peneliti mulai melihat sebab musabab deja vu ke dalam otak dan ingatan kita.

Baru-baru ini, sebuah eksperimen pada tikus mungkin dapat memberi pencerahan baru mengenai asal-usul deja vu yang sebenarnya. Susumu Tonegawa, seorang neuroscientist MIT, membiakkan sejumlah tikus yang tidak memiliki dentate gyrus, sebuah bagian kecil dari hippocampus, yang berfungsi normal. Bagian ini sebelumnya diketahui terkait dengan ingatan episodik, yaitu ingatan mengenai pengalaman pribadi kita. Ketika menjumpai sebuah situasi, dentate gyrus akan mencatat tanda-tanda visual, audio, bau, waktu, dan tanda-tanda lainnya dari panca indra untuk dicocokkan dengan ingatan episodik kita. Jika tidak ada yang cocok, situasi ini akan ‘didaftarkan’ sebagai pengalaman baru dan dicatat untuk pembandingan di masa depan.

Menurut Tonegawa, tikus normal mempunyai kemampuan yang sama seperti manusia dalam mencocokkan persamaan dan perbedaan antara beberapa situasi. Namun, seperti yang telah diduga, tikus-tikus yang dentate gyrus-nya tidak berfungsi normal kemudian mengalami kesulitan dalam membedakan dua situasi yang serupa tapi tak sama. Hal ini, tambahnya, dapat menjelaskan mengapa pengalaman akan deja vu meningkat seiring bertambahnya usia atau munculnya penyakit-penyakit degeneratif seperti Alzheimer: kehilangan atau rusaknya sel-sel pada dentate gyrus akibat kedua hal tersebut membuat kita sulit menentukan apakah sesuatu ‘baru’ atau ‘lama’.

Menciptakan ‘Deja Vu’ dalam Laboratorium

Salah satu hal yang menyulitkan para peneliti dalam mengungkap misteri deja vu adalah kemunculan alamiahnya yang spontan dan tidak dapat diperkirakan. Seorang peneliti tidak dapat begitu saja meminta partisipan untuk datang dan ‘menyuruh’ mereka mengalami deja vu dalam kondisi lab yang steril. Deja vu pada umumnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, di mana tidak mungkin bagi peneliti untuk terus-menerus menghubungkan partisipan dengan alat pemindai otak yang besar dan berat. Selain itu, jarangnya deja vu terjadi membuat mengikuti partisipan kemana-mana setiap saat bukanlah hal yang efisien dan efektif untuk dilakukan. Namun beberapa peneliti telah berhasil mensimulasikan keadaan yang mirip deja vu.

Seperti yang dilaporkan LiveScience, Kenneth Peller dari Northwestern University menemukan cara yang sederhana untuk membuat seseorang memiliki ‘ingatan palsu’. Para partisipan diperlihatkan sebuah gambar, namun mereka diminta untuk membayangkan sebuah gambar yang lain sama sekali dalam benak mereka. Setelah dilakukan beberapa kali, para partisipan ini kemudian diminta untuk memilih apakah suatu gambar tertentu benar-benar mereka lihat atau hanya dibayangkan. Ternyata gambar-gambar yang hanya dibayangkan partisipan seringkali diklaim benar-benar mereka lihat. Karena itu, deja vu mungkin terjadi ketika secara kebetulan sebuah peristiwa yang dialami seseorang serupa atau mirip dengan gambaran yang pernah dibayangkan.

LiveScience juga melaporkan percobaan Akira O’Connor dan Chris Moulin dari University of Leeds dalam menciptakan sensasi deja vu melalui hipnosis. Para partisipan pertama-tama diminta untuk mengingat sederetan daftar kata-kata. Kemudian mereka dihipnotis agar mereka ‘melupakan’ kata-kata tersebut. Ketika para partisipan ini ditunjukkan daftar kata-kata yang sama, setengah dari mereka melaporkan adanya sensasi yang serupa seperti dejavu, sementara separuhnya lagi sangat yakin bahwa yang mereka alami adalah benar-benar deja vu. Menurut mereka hal ini terjadi karena area otak yang terkait dengan familiaritas diganggu kerjanya oleh hipnosis.


Plato adalah seorang filsuf besar di zaman yunani kuno. Dia hidup sekitar abad ke 5 SM. Plato lahir di Athena pada tahun 467 SM. Plato adalah seorang filsuf yang terkenal dengan pandangan dua alamnya. Dasar filsafat Plato didasarkan pada pandangannya tentang dualitas alam antara alam non-materi (idea) dan alam materi.

Filsafat Plato

Bahwa alam sebenarnya tersusun atas dua. Ada dualitas alam dimana alam yang lebih tinggi yang dalam hal ini merupakan sebuah kesempurnaan yang disebut sebagai Idea. Alam idea adalah alam kesempurnaan, alam yang lebih dahulu hadir sebelum hadirnya alam materi. Dalam filsafat ini Plato menyebutkan bahwa alam materi pada dasarnya hanyalah cerminan dati alam idea.

Alam Idea adalah alam yang padanya bentuk-bentuk sempurna dari sesuatu itu ada. Alam ini adalah alam yang bersifat abadi, tidak hancur dan kekal serta tidak tunduk pada hukum-hukum materi. Hukum materi adalah hukum tentang kehancuran dan ketidakabadian. Sedangkan materi adalah timbal balik dari idea. Timbal balik bahwa materi adalah alam dengan sifat-sifat ketidak sempurnaan dari idea. Kalau idea adalah alam keabadian, maka materi adalah alam yang bersifat sementara. Alam materi dapat hancur dan tidak mutlak seperti alam idea.

Dalam filsafat plato disebutkan bahwa sebelum jasad tercipta, jiwa adalah entitas di alam idea. Pada saat jiwa masih merupakan entitas alam idea, jiwa memiliki semua kesempurnaan pengetahuan karena jiwa adalah sesuatu yang sempurna. Jiwa mengetahui segala sesuatu. Namun pada saat jasad tercipta di alam materi maka jiwa harus turun bersatu bersama jasad dan tunduk pada hukum-hukum ketidaksempurnaan materi. Jiwa menjadi sesuatu yang tidak sempurna dan jiwa mengalami kelupaan terhadap seluruh pengetahuan yang pernah dimilikinya ketika berada di alam idea.

Teori Déjà vu

Teori De Javu atau teori tentang pengingatan kembali adalah teori palto dalam menjelaskan asal-usul pengetahuan manusia yang diturunkan dari filsafat dualitas alamnya. Sebagai konsekuensi dari dualitas alam, maka pengetahuan yang diperoleh manusia menurut plato pada dasarnya merupakan hasil pengingatan kembali yang dilakukan oleh jiwa terhadap seluruh pengetahuan yang telah dilupakannya saat harus turun bersatu bersama jasad di alam materi. Pengingatan kembali ini dilakukan manusia dengan menginderai realitas materi karena relaitas materi merupakan refleksi dari realitas atau alam idea. Plato menegaskan bahwa manusia tidak pernah tidak mengetahui, hanya saja jiwa manusia mengalami kelupaan terhadap beberapa pengetahaun akibat ketidaksempurnaan materi. Maka sebagai konsekuensi dari pandangan ini, filsafat plato tidak menutup kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui segala sesuatu.

Kepanjangan ya? Ehe ehe ~ ~ gomen ne ~ 

http://www.emocutez.com
Sampai disini ~ ~ jaa ~ 
http://www.emocutez.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Wii~ =^w^= Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea